• March 2, 2024

Sepakbola Kanada Berada Diambang Kehancuran, Kok Bisa?

Kalau klub sepakbola yang bangkrut mungkin kalian sudah sering mendengarnya. Tapi bagaimana kalau federasi sepakbola dari salah satu negara yang bangkrut? Cukup jarang bukan? Karena pada dasarnya pendanaan federasi sepakbola suatu negara bisa menggunakan anggaran negara. 

Tapi itulah yang kini terjadi di persepakbolaan Kanada. Federasi yang menaungi bintang Bayern Munchen, Alphonso Davies itu dikabarkan tengah berada dalam situasi kesulitan dana sehingga tak mampu membayar biaya operasional tim nasional. Kok bisa ya? Apa yang salah dari federasi sepakbola Kanada ini?

Apa yang Terjadi?

Sekretaris Jenderal sementara federasi sepakbola Kanada, Jason de Vos pun angkat bicara soal situasi sulit ini. Menurutnya, ini merupakan situasi yang belum pernah dialami oleh Kanada. Jajaran pejabat federasi tengah berjuang untuk keluar dari permasalahan ini. Mereka tengah menganalisa poin-poin apa saja yang mempengaruhi pendapatan federasi.

Jason juga mengeluhkan kalau federasi kini tidak memiliki pendapatan yang cukup untuk program-program yang perlu dijalankan. Dan itu mencakup segala hal mulai dari pendidikan pelatih di piramida sepakbola paling bawah, pengembangan SDM wasit, hingga dana operasional tim nasional muda dan tim senior pria dan wanita.

Dilansir Daily Mail, cadangan dana Canadian Soccer pada tahun 2022 turun menjadi 2,4 juta dolar atau setara dengan Rp36 miliar. Padahal di tahun sebelumnya cadangan dana sepakbola Kanada berada di angka 7,1 juta dolar atau sama dengan Rp106 miliar. Itu menandakan Kanada mengalami penurunan pendapatan sekitar Rp70 miliar.

Usut punya usut ini terjadi karena cerobohnya pengelolaan keuangan oleh pihak federasi. Karena minimnya transparansi data, Kementrian Olahraga Kanada pun mencurigai ada yang tak beres dengan pengelolaan keuangan Canada Soccer. Maka dari itu, pemerintah sedang mengupayakan audit keuangan dari 2017 hingga 2023 ini.

Selain itu, salah satu penyebab utama menurunnya pemasukan federasi sepakbola Kanada adalah penjualan rights atau semacam hak siar Canadian Premier League kepada salah satu perusahaan swasta, Canadian Soccer Business.

Kesepakatan tersebut dianggap blunder karena pihak federasi hanya akan mendapat sekitar 3 juta dolar (Rp45,1 miliar) saja per tahun. Sementara itu, Canadian Soccer Business akan mendapat untung yang lebih besar karena menerima semua pendapatan dari hak siar media dan semua sponsor yang didapat tim nasional baik pria maupun wanita.

Agenda Timnas Terganggu

Nah, ketika pendapatan jauh berkurang tentu Federasi Sepak bola Kanada pun harus pintar-pintar mengatur dan memilih mana kegiatan sepakbola yang harus diprioritaskan terlebih dahulu. Bahkan, skuad timnas Kanada sampai memakai pesawat kelas ekonomi untuk menjalani laga FIFA Matchday beberapa hari lalu.

Saking sulitnya, federasi sedang mempertimbangkan untuk mengajukan kebangkrutan ke FIFA. Namun, Jason de Vos menegaskan kalau bangkrut adalah opsi paling akhir. Mereka tengah berupaya untuk mendapatkan pemasukan sebanyak mungkin di tengah agenda sepakbola yang padat di tahun 2023 ini. 

Karena jika tak mendapat pemasukan yang cukup, Kanada terancam tak mengirim timnas putra dan putri untuk bertanding di FIFA Matchday Oktober nanti. Kemungkinan terburuk, tim sepakbola Kanada tak akan tampil di seluruh agenda FIFA sepanjang paruh kedua tahun 2023 ini. 

Padahal Kanada memiliki beberapa agenda besar tahun ini. Contohnya saja tim nasional putri Kanada yang berencana tampil di Piala Dunia Wanita yang akan diadakan di Australia pada Juli mendatang. Tentu mereka butuh biaya akomodasi yang tidak sedikit untuk memberangkatkan tim ke Australia nanti. 

Timnas Putri Kanada sudah lelah diperlakukan tidak adil dalam urusan gaji dan pengurangan anggaran sejak tahun lalu. Mereka bahkan sempat melakukan pemogokan di awal tahun. Jika Timnas Putri batal berangkat ke Australia, sudah dipastikan protes besar-besaran akan kembali terjadi.

Sedangkan untuk tim nasional pria, Kanada akan menjadi tuan rumah CONCACAF Gold Cup bersama Amerika Serikat. Kabarnya, pertandingan pembuka turnamen tersebut akan dilaksanakan pada 27 Juni mendatang melawan Guatemala. Permasalahan ini juga kemungkinan bakal mempengaruhi status Kanada sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026 mendatang.

Bagaimana Kontribusi Negara?

Mendengar permasalahan ini, pemerintah Kanada tak hanya diam. Setelah tampil di Piala Dunia 2022 kemarin, persepakbolaan Kanada selalu mendapat perhatian lebih dalam setahun terakhir. Maka dari itu pemerintah juga bergerak cepat untuk membantu dalam segala hal. Selain proses audit, pemerintah Kanada juga membantu secara finansial.

Pada tahun 2022, pemerintah sudah memberikan suntikan dana sebesar 5 juta dolar atau setara dengan Rp75 miliar. Namun karena pengelolaan yang buruk, federasi Kanada sudah menghabiskan 4 miliar dolar hanya dalam waktu kurang dari satu tahun. Jadi tak heran apabila federasi terus mengandalkan dana simpanan.

Apakah FIFA Bisa Bantu?

Lantas ke mana lagi Kanada harus meminta pertolongan? Apakah FIFA selaku federasi sepakbola dunia bisa turun tangan untuk menangani kasus semacam ini? Tentu bisa karena mereka merupakan badan olahraga yang gemar membantu negara-negara di bawah naungannya.

FIFA dapat segera memberikan bantuan berupa finansial kepada federasi yang terancam bangkrut. Hal ini bertujuan untuk menstabilkan kembali neraca keuangan dari federasi tersebut. FIFA juga bisa membantu memenuhi kebutuhan lain untuk menstabilkan operasional federasi sepakbola Kanada nantinya.

Bantuannya pun bisa berbentuk pinjaman yang mesti dikembalikan suatu saat nanti atau berupa hibah yang tak perlu diganti. Bantuan juga bisa berupa rencana restrukturisasi keuangan. Segala bentuk uluran tangan FIFA akan disesuaikan dengan keadaan masing-masing federasi.

Ternyata Kanada Bukan yang Pertama

Situasi yang menimpa Kanada ternyata bukan kali pertama dialami oleh negara-negara anggota FIFA. Tercatat negara yang memiliki kesulitan finansial ternyata juga banyak. Tapi tak sampai bangkrut. Hanya Nigeria yang pernah mengalami hal pahit tersebut. Mereka dinyatakan bangkrut pada tahun 2004.

Penyebabnya karena manajemen keuangan yang buruk dan korupsi yang merajalela di negara tersebut. Sama halnya di Indonesia, korupsi telah menjadi kutukan kehidupan publik dan pribadi Nigeria selama bertahun-tahun lamanya. Asosiasi Sepakbola Nigeria kabarnya sampai dililit hutang dan tak mampu membayar gaji pemain tim nasional dan staf yang bekerja di asosiasi.

Beruntungnya, FIFA mau membantu Nigeria untuk bangkit. Federasi Sepakbola Dunia itu turun tangan guna menstabilkan keuangan Nigeria dengan suntikan dana yang tak disebutkan jumlahnya. Setelah bangkit Asosiasi Sepakbola Nigeria pun berganti nama menjadi Federasi Sepakbola Nigeria. Nah, FIFA bisa melakukan hal yang sama kepada Kanada nantinya.

Kanada Bisa Tiru Jamaica

Jika FIFA tidak turun tangan, mungkin solusi alternatif bisa diterapkan. Kanada bisa mencontoh federasi sepakbola Jamaika dalam menangani krisis keuangan. Kabarnya, Jamaika kekurangan dana untuk memberangkatkan Timnas Putri ke Piala Dunia Wanita di Australia.

Akhirnya, ada salah satu orang tua dari punggawa tim nasional putri Jamaika menginisiasi laman galang dana online dengan judul “Reggae Girlz Rise Up”. Dalam laman tersebut mereka mengajak para pecinta sepakbola untuk menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu sebagian biaya yang dikeluarkan federasi untuk keberangkatan timnas putri ke Australia.

Kabarnya, target donasi berada di angka 175 ribu dolar atau sekitar Rp2,6 miliar. Nantinya donasi tersebut akan digunakan untuk membayar biaya perjalanan, penginapan, dan makan para punggawa Timnas Putri Jamaika. Apakah yang dilakukan oleh Jamaika sedikit menginspirasi Federasi Sepakbola Kanada?

Sumber: The Guardian, Daily Mail, Daily Record, CBC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *