• March 2, 2024

NGERINYA Timnas Jepang, Calon Lawan Indonesia di Piala Asia

Bahaya, timnas Jepang kini sedang ngeri-ngerinya. Hal itu tentu membuat timnas Garuda makin ketar-ketir jika menghadapi mereka di Piala Asia 2024 nanti. Meski semuanya masih berpeluang, namun tren positif timnas Jepang akhir-akhir ini patut untuk ditakuti.

Timnas Negeri Sakura mulai menuai para generasi emasnya. Pemain mereka yang berlaga di liga top Eropa makin gacor. Tapi yang perlu diingat, tak hanya ujuk-ujuk Jepang meraih kesuksesan seperti sekarang ini. Ternyata, semua itu ada visi dan proyek yang jelas.

Jepang Dan Piala Asia

Berangkat dari kompetisi terdekat yang akan dilakoni anak asuh Hajime Moriyasu yakni Piala Asia 2024. Kompetisi yang akan dilangsungkan Januari 2024 tersebut akan jadi prioritas utama para generasi emas Jepang meraih trofi.

Kelaparan Jepang di Piala Asia sangat terlihat. Pasalnya mereka terakhir kali meraih trofi tersebut adalah tahun 2011. Gengsi jadi penguasa Piala Asia jadi faktor. Pasalnya Jepang adalah rajanya dengan peraih gelar terbanyak 4 kali. Tak mau dong Jepang gagal lagi?

Nah, di edisi 2024 nanti waktu yang paling tepat bagi mereka untuk juara. Apalagi di edisi terakhir 2019 lalu, mereka harus gagal di final. Tapi tunggu dulu, mereka akan satu grup dengan negara kita Indonesia. Apakah anak asuh Shin Tae-Yong dengan beberapa pemain naturalisasinya bisa menandingi mereka? Meski semua bisa terjadi, nampaknya timnas Garuda harus mulai realistis sedari sekarang.

Tren Positif Jepang

Kaoru Mitoma dan kawan-kawan kini sedang menggila di beberapa laga terakhir. Timnas Jepang bahkan kini banyak dibicarakan karena identik dengan empat gol. Sebutan itu tak lepas dari skor kemenangan Jepang di beberapa laga terakhir.

Jepang sebelum menjamu Tunisia pada 17 Oktober, selalu menang dengan total empat gol. Diantaranya melawan Peru (4-1), Jerman (4-1), Turki (4-2), dan yang terakhir Kanada (4-1). Tak hanya itu, sejak ditaklukkan Kroasia di Piala Dunia 2022 lalu melalui adu penalti, Jepang baru kalah sekali melawan Kolombia, yakni pada Maret lalu.

Tren positif inilah yang patut ditakuti para lawan Jepang, termasuk Indonesia. Coach Shin harus waspada dan cepat menemukan resep meredam timnas Jepang yang makin ngeri ini.

Local Pride Hajime Moriyasu

Lebih ngerinya lagi, tren positif Jepang kala menumbangkan tim-tim besar dunia tersebut hanya dilatih oleh pelatih local pride, bernama Hajime Moriyasu. Moriyasu diangkat oleh timnas Jepang sebagai pelatih sejak tahun 2018, menggantikan Akira Nishino.

Memang dulu timnas Jepang sering menggunakan pelatih asing macam Zico, Zaccheroni, Javier Aguirre, hingga Halilhodzic. Namun itu adalah tujuan jangka pendek mereka untuk menimba ilmu.

Moriyasu tak sembarangan ditunjuk FA Jepang. Selain mantan pemain timnas, ia juga sudah mengetahui seluk beluk talenta Jepang di kompetisi domestik. Maklum, sebelumnya karier Moriyasu berawal di beberapa klub di J-League. Resep pelatih local pride Jepang terbukti ampuh, seiring dihargainya Moriyasu di negeri sendiri.

Taktik Moriyasu di timnas Jepang cenderung sederhana. Terkadang bertahan penuh dengan 4-4-2, maupun ketika menyerang dengan 4-2-3-1 atau 4-3-3. Sejak ditanganinya, Jepang lebih mengandalkan kemampuan kolektif tim.

Moriyasu selalu menekankan semangat spartan para serdadunya di lapangan. Maka tak heran jika punggawa Jepang tak ciut nyali jika hadapi tim besar sekalipun. Bahkan mereka berani berduel. Maklum, para pemain Jepang sebagian besar sudah pengalaman menghadapi pemain top Eropa karena sudah sering bertemu.

Generasi Emas Jepang

Ya, Moriyasu sangat terbantu dari menjamurnya generasi emas Jepang yang makin berkembang di liga top eropa. Pasca Piala Dunia 2022, skuad Jepang sudah didominasi pemain yang bermain di luar Jepang. Hanya segelintir yang berasal dari J-League.

Misal saat membantai Jerman 4-1 di laga persahabatan September lalu. Hanya ada dua pemain yang bermain di J-League. Mereka adalah kiper Osako dari Sanfrecce Hiroshima dan bek Seiya Meikuma dari Cerezo Osaka.

Selain itu, pemain inti mereka yang bermain di liga top Eropa juga bukan hanya pemanis belaka. Mereka menjadi punggawa penting di timnya masing-masing. Sebut saja Kaoru Mitoma di Brighton, Daichi Kamada di Lazio, Junya Ito di Reims, Wataru Endo di Liverpool, maupun Tomiyasu di Arsenal. Belum lagi pemain seperti duo penyerang Furuhashi dan Maeda dari Celtic.

Ditambah yang berasal dari Bundesliga seperti Hiroki Ito dari Stuttgart, Ko Itakura dari Gladbach, Ritsu Doan dari Freiburg, Ao Tanaka dari Dusseldorf, maupun Takuma Asano dari Bochum.

DNA Project Jepang 2016

Lahirnya generasi emas Jepang tak luput dari garis kebijakan yang sudah diterapkan sejak 2016 lalu. Menurut website FIFA, Jepang telah melakukan program bernama โ€œDNA Project 2016โ€.

โ€œDNA Project 2016โ€ itu, bertujuan untuk fokus mengembangkan bakat alami para pemain. Kebanyakan bakat pesepakbola dari Jepang memiliki kecepatan sebagai keahlian alami mereka. Namun ada keluhan bahwa mereka tidak cukup fit secara fisik dan teknis untuk mempertahankan akselerasinya secara konsisten.

Jepang ingin menghilangkan anggapan tersebut. Sehingga mereka mengirimkan pelatih, pemandu bakat, maupun para staf teknisnya, untuk belajar di berbagai klub Eropa. Dengan cara ini, Jepang akan perlahan membawa perubahan soal bakat fisik maupun teknis para pemainnya.

Hasilnya berbuah positif. Kini klub-klub Eropa sadar bahwa mereka bisa menemukan pemain Jepang yang sangat fit, teknis, dan mudah beradaptasi. Dengan itu, tak dipungkiri jumlah pesepakbola berbakat Jepang nantinya akan terus bertambah di Eropa.

Visi 100 Tahun Sepakbola Jepang

Meski makin menjamur di Eropa, para punggawa Jepang ini awalnya berasal dari klub lokal. Sebut saja Hiroki Ito, Maeda, Mitoma maupun Endo. Kompetisi lokal yang kompetitif yakni J-League juga jadi faktor kenapa bakat para pemain Jepang mampu tumbuh dan berkembang.

Padahal dulu di awal 90-an, J-League mengalami krisis. Menurut These Football Times, J-League baru direformasi di tahun 1991. Lalu hal yang dilakukan Jepang setelah terbentuknya format J-League yang baru adalah merumuskan visi 100 tahun sepakbola mereka.

Jepang merumuskan bahwa di tahun 2092 nanti, ia menaruh impian sebagai juara dunia. Impian itu tak sekadar angan-angan. Mereka mulai bergerak menuju impian tersebut dengan tindakan nyata. Terbukti sejak resolusi โ€œVisi 100 tahunโ€ dicanangkan, mereka mulai berprestasi.

Juara Piala Asia pertama kali tahun 1992, tampil pertama kali di Piala Dunia 1998, dan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 jadi bukti. Sejak 1998 Jepang hingga kini juga tak pernah absen di Piala Dunia. Mereka juga sering mengejutkan di Piala Dunia dengan menumbangkan negara-negara kuat.

Ya, tak dipungkiri โ€œVisi 100 tahunโ€ step by step konsisten mereka jalankan. Termasuk didalamnya program โ€œDNA Project 2016โ€. Tak tahu nanti ada program apalagi. Artinya, penampilkan Jepang yang dianggap makin ngeri seperti sekarang ini, tak ujug-ujug lahir dalam semalam. Ada sebuah garis yang jelas. Apakah seharusnya Indonesia meniru cara mereka? Atau hanya mau instan saja?

Sumber Referensi : fifa.com, japantimes, thesefootballtimes, dw.com, inews.co

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *