• February 24, 2024

Liga Inggris Mulai Melarang Sponsor Judi, Tumben?

Setelah bertahan cukup lama membiarkan sponsor judi, liga terpopuler di dunia, Liga Inggris kini mulai melarang penggunaan sponsor judi bagi klub-klubnya. Hal yang merupakan sebuah terobosan baru. Yang unik ternyata pelarangan ini adalah hasil dari kesepakatan klub-klub di Liga Inggris.

Seperti apa bentuk pelarangan tersebut? Dan mengapa sponsor judi yang bertahan lama di Liga Inggris kini justru mendapat pelarangan? Apa yang melatarbelakangi kebijakan tersebut?

Tren Penggunaan Sponsor Judi Di Liga Inggris

Sudah marak dan menjadi suatu tren ketika sebuah perusahaan judi melekat di tubuh klub-klub Liga Inggris. Sejak sedekade terakhir, logo-logo perusahaan judi terpampang di beberapa jersey klub Liga Inggris.

Tak dinafikan memang, sebuah keuntungan besar menjadi iming-iming yang menjanjikan dari perusahaan judi bagi sebuah klub. Liga Inggris sejak 2015 silam, menurut data yang dilansir dari Globaldata London, adalah liga yang memperoleh keuntungan besar dari beberapa perusahaan judi, yakni sebesar 143,84 juta dollar.

Kita tahu beberapa perusahaan ternama judi seperti Betway, Stake, SBOTOP, FunBet88, Dafabet, W88, maupun Sportsbet masih melekat di beberapa klub Liga Inggris. Bahkan diantaranya sudah ada yang diperpanjang kontrak kerjasamanya.

Ketergantungan Klub Akan Sponsor Judi

Kesepakatan antara klub Liga Inggris dengan perusahaan judi layaknya sebuah candu. Bagaimana tidak? Simbiosis mutualisme yang mereka jalankan berjalan sesuai apa yang diharapkan.

Ketergantungan para klub Inggris kepada perusahaan judi semakin nyata. Terutama apa yang ditawarkan perusahaan judi kepada tim-tim yang notabene kurang mapan atau medioker. Karena jika kita cermati, klub-klub medioker Liga Inggris lah yang banyak bergantung pada nilai besar kesepakatan sponsor dengan perusahaan judi.

Tak hanya di Liga Inggris, di klub divisi Championship maupun League One saja marak juga menjalin kesepakatan dengan perusahaan judi. Klub-klub menjalin kerjasama dengan perusahaan judi dengan dalih mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Apalagi di masa Covid melanda. Uang kesepakatan itu sangatlah menolong.

Di sisi lain, dari perusahaan judi juga tak mau kalah untung. Ya, salah satu sebab mereka sangat tertarik menjadi sponsor di Liga Inggris adalah tingkat kepopulerannya. Tingkat eksposur Liga Inggris di belahan dunia baik Asia, Afrika maupun Amerika, sangatlah tinggi.

Dengan itu mereka leluasa dan terbantu secara marketing menjelajahi pasarnya. Terutama di Asia yang jadi pasar besar para perusahaan judi tersebut. Matt-Zarb Cousin, seorang mantan pecandu judi yang sekarang jadi pemimpin gerakan “Clean Up Gambling” mengatakan bahwa Asia menjadi tempat subur bagi perusahaan judi meraup untung, meskipun di sana ilegal. Karena justru dengan sifat ilegal itu para perusahaan judi memfasilitasi bagi setiap orang Asia yang ingin bermain judi seluas-luasnya.

Alasan Larangan Penggunaan Sponsor Judi Dari Parlemen Inggris

Dari suburnya hubungan antara klub dengan sponsor judi, tiba-tiba secara mengejutkan pada tahun 2020 muncul wacana yang tertuang dalam undang-undang perjudian yang diluncurkan oleh Departemen Digital, Budaya, Media dan Olahraga (DCMS) Britania Raya.

Kenapa mengejutkan? Karena sebelumnya pemerintah Inggris baik-baik saja akan hal itu, bahkan melonggarkannya. Usut punya usut, wacana itu dikeluarkan sebagai program pencegahan dampak negatif dari para masyarakat muda di Britania Raya.

Karena seperti dilansir Football League World, angka pemuda yang kecanduan perjudian yang disebabkan oleh maraknya sponsor judi di klub sepakbola selalu meningkat. Komisi Perjudian Inggris pada 2020 mencatat ada sekitar 400 ribu orang terlibat perjudian. Dan bahayanya, 360 ribu diantaranya berasal dari kaum muda berumur belasan tahun.

Selain itu penyebab lainnya wacana itu datang adalah semakin tidak transparansinya nilai kesepakatan kerjasama pihak perusahaan judi dengan klub. Oleh sebab itu, pada 2021 resmilah muncul larangan yang tertulis dari pemerintah Inggris yang berisi bahwa perusahaan judi tidak diperbolehkan beriklan di jersey klub atau bagian lain dari perlengkapan klub mulai tahun 2023.

Nah, ketika larangan itu tertuang dalam rencana undang-undang baru tentang perjudian tahun 2022, klub-klub Liga Inggris pun mulai kelabakan untuk mencari solusinya. Klub yang sudah terlanjur mengerjakan kerjasama dengan perusahaan judi dengan durasi lama mulai meninjau kembali.

Langkah Dan Solusi

Ada sebuah langkah yang dialami Crystal Palace ketika berupaya langsung untuk mengakhiri kesepakatannya dengan sponsor judi mereka W88. Pada 2022 lalu, The Eagles mengumumkan perusahaan asuransi mobil “Cinch” sebagai sponsor baru mereka mulai musim 2022/23.

Hal aneh justru terjadi pada Everton dan Aston Villa. Mereka sama-sama sudah pernah menghentikan kesepakatan dengan perusahaan judi Sportpesa dan W88. Mereka bekerjasama dengan perusahaan jual beli mobil Cazoo. Namun musim ini Everton menjalin lagi kerjasama dengan perusahaan judi Stake. Bahkan Aston Villa di musim depan 2023/24, akan menyepakati kerjasama dengan perusahaan judi BK8.

Adapun langkah lain yang dikompromikan pihak pemerintah Inggris dengan para perusahaan judi adalah mulai 2021, perusahaan judi tersebut diwajibkan membayar iuran 0,1% dari keuntungan yang diperoleh mereka kepada yayasan amal bernama Gambling Aware.

Nantinya jumlah yang disumbahkan akan disalurkan ke sumber pelayanan kesehatan nasional Inggris (NHS). Sebagai bukti yang sudah berjalan, dalam catatan tahun 2022 lalu, TGP Europe, nama perusahaan yang menaungi SBOTOP, BK8, maupun FunBet88 menyumbang 2.000 pounds (37 juta rupiah).

Undang-Undang Perjudian Baru Akan Diketok Parlemen Inggris

Dari segala langkah dan solusi yang dilakukan, pemerintah Inggris akhirnya pada 2023 ini melalui parlemennya akan segera mengesahkan rancangan undang-undang perjudian baru yang berisi larangan penggunaan logo sponsor judi pada klub di Liga Inggris.

Maka dari itu, anggota klub Liga Inggris berkumpul dan menyepakati hal itu pada April 2023. Namun menurut The Athletic, pelarangan yang disepakati para klub Liga Inggris tersebut ternyata hanyalah sebatas penggunaan logo besar di depan jersey. Sedangkan di bahu, dan LED stadion masih diperbolehkan.

Itupun para klub Liga Inggris masih akan diberikan waktu selama tiga musim. Artinya mulai diberlakukan pada musim 2026/27 nanti. Masih ada kesempatan sebenarnya bagi klub-klub Liga Inggris yang masih terikat kontrak dengan perusahan judi untuk mengevaluasinya.

Delapan tim Liga inggris musim ini masih memiliki perusahaan judi di bagian depan jersey, mereka yakni Brentford, Everton, Fulham, Leeds, Newcastle, Southampton, dan West Ham.

Sementara di Championship ada Coventry, Middlesbrough, Stoke City, Birmingham, dan Watford. Nah, dari semua klub tersebut, kini siap-siap saja untuk segera ancang-ancang melepas nama besar sponsor judi mereka secara perlahan. Jika tidak, siap-siap saja mereka dihukum karena melanggar undang-undang.

Sumber Referensi : theathletic, bbc, skysports, footballeagueworld, theguardian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *