• March 2, 2024

Kisah Manuel Neuer Membuat Banyak Penjaga Gawang Kehilangan Pekerjaan

Kemunculan Habib Ja’far Al-Hadar di dunia media sosial berhasil mengubah sudut pandang anak-anak muda terhadap Islam. Habib Ja’far mengajarkan kepada generasi Milenial dan Gen Z kalau Islam ternyata bisa dipelajari dengan metode-metode yang asik dan tentunya dengan cara penyampaian yang logis. Hal yang sebelas dua belas juga dilakukan oleh Manuel Neuer terhadap sepakbola.

Mungkin sedikit berlebihan, tapi memang begitu adanya. Neuer mengubah sudut pandang banyak orang yang menontonnya. Sehingga ia bisa meyakinkan jutaan anak muda untuk menyingkirkan stigma buruk kalau kiper adalah posisi yang tidak penting. Bahkan di Indonesia, awalnya hanya anak berbadan besar saja yang dijadikan kiper. Lantas, bagaimana Neuer melakukan itu?

Sebelum Manuel Neuer Terkenal

Pada dasarnya, tugas penjaga gawang sangat jelas. Tak membiarkan bola masuk ke gawangnya. Entah datangnya dari kaki pemain lawan atau kawan. Area permainannya juga itu-itu saja. Penjaga gawang tak dituntut untuk keluar area kotak penalti agar gawang tak kosong.

Bahkan saking monotonnya, kita pernah mendengar kisah yang melegenda dari kiper Charlton, Samuel Bartram. Kiper yang kelewat disiplin sehingga tetap berdiri di depan gawang meski pertandingan sudah berakhir. Itu terjadi ketika Inggris mengalami kabut tebal tahun 1937. Jarak pandang yang pendek membuatnya tak menyadari kalau teman-temannya sudah meninggalkan lapangan.

Kemunculan Neuer

Kembali ke pembahasan mengenai Manuel Neuer. Nah, setelah bertahun-tahun tugas penjaga gawang hanya gitu-gitu aja, Manuel Neuer muncul sebagai talenta muda dan berbakat di bawah mistar Schalke dan Timnas Jerman.

Gaya bermainnya begitu berbeda dengan penjaga gawang pada umumnya. Neuer sering terlibat dalam permainan. Ia berani menguasai bola dan tak segan keluar dari kotak penalti demi menghentikan serangan lawan. Dengan gaya bermain seperti itu, Neuer dinamai sebagai sweeper-keeper.

Kita semua bisa melihat bagaimana Neuer bermain. Meski berposisi sebagai kiper, ia begitu leluasa memainkan bola di kakinya. Terkadang ia bahkan maju dan mengambil tendangan bebas di area bermain lawan agar semua pemain bisa menantikan umpannya di kotak penalti. Daripada sebagai kiper, ia seringkali berperan sebagai seorang bek.

Jika ditarik jauh ke belakang, tren semacam ini sebetulnya sudah ada sebelum Neuer. Pertama kali muncul di era Rinus Michel bersama total football-nya tahun 1970-an. Yang mana penjaga gawang juga kerap naik untuk melakukan tekel dan membantu mengawali serangan. Tapi karena Neuer berada di level yang mengesankan dan terlihat sempurna memainkan peran itu, beberapa media menilai dirinyalah yang mempopulerkan gaya bermain tersebut.

Untuk menjadi sweeper-keeper sebaik Neuer tidaklah mudah. Butuh kondisi tubuh yang selalu prima dan konsentrasi penuh di lapangan. Sesekali mereka juga harus mengawinkan banyak aspek, seperti kelenturan tubuh dan teknik olah bola tinggi. Tentu tanpa mengesampingkan tugas utama mereka sebagai shoot stopper.

Standar yang Makin Tinggi

Manuel Neuer dianggap sebagai penjaga gawang yang komplit. Ia mulai membangun reputasi sebagai salah satu penjaga gawang hebat. Kehebatan Neuer bahkan diakui langsung oleh kiper yang mungkin dianggap sebagai yang terbaik saat itu, yakni Gianluigi Buffon saat Neuer berhasil menjuarai Piala Dunia bersama Der Panzer tahun 2014.

Penjaga gawang nomor satu di Italia itu melontarkan pujiannya kepada seorang Neuer. Ia menganggap sang kiper telah banyak melakukan hal-hal luar biasa. Ia bahkan tak segan untuk menyebut kalau Neuer akan menjadi penjaga gawang yang lebih hebat dari dirinya. Neuer telah memberikan tren tersendiri bagi para kalangan penjaga gawang.

Neuer bak anomali di kalangan penjaga gawang seangkatannya. Ia bertolak belakang dengan kiper-kiper di angkatan Edwin Van Der Sar, Gianluigi Buffon, atau mungkin Iker Casillas. Dimana mereka jago dalam menjaga gawang tapi tak berkontribusi banyak dalam membangun serangan.

Campur Tangan Pep Guardiola dan Louis van Gaal

Fenomena penjaga gawang yang aktif terlibat dalam pola permainan kian mendunia kala Pep Guardiola datang ke Bayern Munchen pada tahun 2013. Meski hanya bertahan selama tiga tahun, pelatih berkepala plontos itu benar-benar mengeluarkan potensi terbaik Neuer. Bahkan saking hebatnya, ia sampai masuk dalam tiga besar ranking Ballon d’Or tahun 2014.

Pep Guardiola mengandalkan Neuer sebagai orang terakhir di pertahanan, tapi juga jadi pemain yang paling penting ketika tim sedang membangun serangan. Padahal yang menyadari pentingnya peran penjaga gawang dalam membangun serangan bukan hanya Pep. Louis Van Gaal sudah lebih dulu menyadari akan hal itu.

Ia menyulap Jasper Cillessen agar terlibat dalam permainan untuk meloloskan diri dari high press tim lawan di ajang Piala Dunia 2014. Dari situlah, sudut pandang pelatih terhadap penjaga gawang mulai berubah.

Terlebih karena Pep dan Van Gaal merupakan kiblat dari banyak pelatih-pelatih muda. Jadi, banyak pelatih lain yang mulai menuntut lebih dari seorang penjaga gawang. Oleh karena itu, di era sepakbola modern posisi penjaga gawang sama baiknya dengan gelandang yang bertugas mengatur tempo permainan.

Ketika banyak yang meniru gaya melatih mereka, maka semakin banyak penjaga beberapa penjaga gawang modern yang piawai memainkan bola macam Ederson yang kini juga bekerja di bawah Pep. Lalu ada Aaron Ramsdale, David Raya, Andre Onana, Thibaut Courtois dan masih banyak lagi.

Mulai Dikelompokkan

Sama halnya dengan gelandang dan bek yang memiliki banyak tipe atau gaya bermain, penjaga gawang modern juga demikian. Dari berbagai nama penjaga gawang modern yang bermunculan membuat beberapa penggila sepakbola mulai mengkotak-kotakan tipe penjaga gawang.

Selain ada sweeper-keeper seperti Manuel Neuer, ada shot stopper goalkeeper. Jenis penjaga gawang yang satu ini cenderung identik dengan penjaga gawang klasik. Shot stopper goalkeeper adalah jenis kiper pada umumnya. Tugasnya hanyalah membuat penyelamatan dan menghentikan bola agar tak membuat jaring gawang bergetar.

Penjaga gawang ini memiliki teknik akrobatik dan reflek yang luar biasa. Ia juga kuat menahan tendangan lawan yang begitu keras. Penjaga gawang yang terkenal sebagai shot stopper adalah David De Gea. Setelah itu, ada Ball Playing Goalkeeper. Jenis ini juga ada di sektor bek.

Jenis kiper ini adalah versi yang lebih modern dari shot stopper. Berbeda dari kiper pada umumnya, ball playing goalkeeper umumnya punya kemampuan umpan yang baik, sehingga bisa menjadi distributor bola dari bawah saat melakukan build up. Lantas apa bedanya dengan sweeper? Yang membedakan adalah posisinya. Ball playing tak sering keluar dari kotak penalti untuk menghalau bola.

Mematikan Karir Penjaga Gawang Klasik?

Namun, evolusi yang diciptakan oleh Neuer tak selamanya berimbas baik pada pemain. Banyak penjaga gawang yang pada akhirnya kehilangan posisinya di skuad utama karena tak bisa beradaptasi. Contohnya saja Joe Hart di Manchester City atau Samir Handanovic di Inter Milan.

Kita semua tahu, di era keemasannya Joe Hart adalah penjaga gawang nomor satu di Inggris. Refleknya dalam menepis bola sudah tak diragukan lagi. Tapi setelah kedatangan Pep Guardiola, ia langsung terpinggirkan.Β 

Begitupun dengan Handanovic. Jasa-jasanya selama sepuluh musim terakhir di Inter seperti tak diperhitungkan ketika klub lebih memilih untuk mendatangkan Andre Onana. Hukum alam pun bekerja. Siapa yang berevolusi untuk terus beradaptasi, maka ia lah yang akan bertahan sampai akhir.

Sumber: Bundesliga, These Football Times, The Analyst

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *