• March 2, 2024

Ketika Bayer Leverkusen Mendapat Julukan “Neverkusen”

Hanya pemenang yang akan selalu diingat, sementara para pecundang akan dengan cepat dilupakan. Siapa pula yang mau repot-repot mengenang si juara dua? Sayangnya, aturan tersebut tidak berlaku bagi Bayer Leverkusen.

Ada suatu masa di mana Bayer Leverkusen mendapat julukan “Neverkusen”. Biasanya, sebuah julukan disematkan untuk membuat sebuah klub terlihat lebih keren atau berwibawa. Namun, julukan “Neverkusen” disematkan agar orang-orang selalu mengingat bahwa Bayer Leverkusen pernah menjadi pecundang sejati.

Bayer Leverkusen: Klub Pabrik Tanpa Tradisi

Bayer Leverkusen adalah tim pabrik, tim olahraga yang dibiayai dan dijalankan oleh produsen atau bisnis lain. Mirip seperti RB Leipzig yang dibelakangnya ada Red Bull atau VfL Wolfsburg dengan Volkswagen.

Dalam kasus Bayer Leverkusen, klub yang terbentuk pada 1 Juli 1904 itu dibentuk dan dimiliki oleh salah satu perusahaan kimia dan farmasi terbesar di dunia yang berkantor di kota Leverkusen, Bayer AG. Karena asal-usul itulah, Bayer Leverkusen menjuluki dirinya sebagai “Werkself” yang dalam bahasa Inggris berarti “Factory team” alias tim pabrik.

Namun, karena asal-usul mereka itu, Bayer Leverkusen tidak punya akar rumput yang kuat seperti lazimnya klub tradisional Jerman lainnya. Para penggemar di Jerman tidak menyukai tim yang didukung oleh kekuatan perusahaan. Hal inilah yang membuat Leverkusen bukan merupakan klub populer di Jerman, meski stadion mereka, BayArena, terkenal dengan reputasinya sebagai salah satu stadion paling ramah keluarga di Jerman.

Akan tetapi, karena dimiliki, dikelola, dan dibiayai oleh salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia, Bayer Leverkusen tumbuh menjadi tim yang sehat secara finansial dan punya infrastruktur yang maju, serta akademi klub yang bagus. Namun, mereka punya satu masalah serius.

Sejak berdiri pada 1904 dan sejak promosi ke Bundesliga pada 1980, “die Werkself” tak punya trofi bergengsi yang bisa dipajang. Sebuah faktor yang membuat Bayer Leverkusen tak punya tradisi dan basis penggemar yang setia.

Peruntungan Bayer Leverkusen kemudian berubah ketika Reiner Calmund menjadi manajer departemen sepak bola dan CEO pada pertengahan 90an. Di bawah kepemimpinan Reiner Calmund yang ambisius, Bayer berhasil mendatangkan banyak pemain bintang yang mengubah sejarah klub.

Calmund adalah figur yang bertanggung jawab mendatangkan Ulf Kirsten, Bernd Schuster, Rudi Völler, Carsten Ramelow, Bernd Schneider, hingga Michael Ballack. Ia juga sosok yang berhasil mengangkut bintang-bintang asal Brasil, seperti Paulo Sergio, Emerson, Ze Roberto, Lucio, dan Juan. Transfer Niko Kovac, Robert Kovac, hingga Dimitar Berbatov juga merupakan hasil kerja dari Reiner Calmund.

Hasilnya, Bayer Leverkusen berhasil menjuarai UEFA Cup 1988 dan DFB-Pokal 1993. Sayangnya, Leverkusen kurang beruntung di Bundesliga. Secara menyakitkan, mereka hanya finish sebagai runner-up di musim 1997, 1999, dan 2000.

Lalu, sebuah kesempatan besar dan harapan yang amat tinggi terjadi di musim 2001/2002. Sebuah musim terbaik dalam sejarah sekaligus paling memilukan bagi Bayer Leverkusen.

Bayer Leverkusen Berpeluang Raih Treble Winner di Musim 2001/2002

Bayer Leverkusen memulai musim 2001/2002 dengan menunjuk pelatih eksentrik, Klaus Toppmöller sebagai nahkoda baru. Di musim tersebut, Toppmöller sudah dibekali dengan skuad yang sangat kompetitif.

Di barisan belakang, Leverkusen punya Boris Zivkovic, Lucio, Diego Placente, dan Jens Nowotny. Di lini tengah, ada Bernd Schneider, Marko Babic, Michael Ballack, Ze Roberto, dan sang kapten Carsten Ramelow.

Barisan paling ngeri tentu saja ada di lini depan. Ada Oliver Neuville, Dimitar Berbatov, dan top skor sepanjang masa Leverkusen, Ulf Kirsten. Di musim tersebut, mereka juga memperkuat diri dengan mendatangkan Zoltán Sebescen, Yildiray Bastürk, dan kiper Hans-Jörg Butt. Saat itu, Bayer Leverkusen bisa dibilang memiliki salah satu skuad paling berbahaya di Eropa.

Hasilnya memang sangat terlihat di atas lapangan. Skuad asuhan Klaus Toppmöller berhasil mencatat 14 laga tak terkalahkan di Bundesliga. Sebuah awal yang amat baik untuk mewujudkan mimpi menjuarai Bundesliga.

Namun, superioritas Bayer Leverkusen sirna di pertengahan musim. Di pekan ke-21, puncak klasemen berhasil dikudeta Borussia Dortmund. Leverkusen tertinggal empat poin setelah mencatat lima kekalahan di tujuh pertandingan terakhir di sepanjang musim dingin.

Tren kekalahan die Werkself baru terhenti di pekan ke-22 kala berhasil membantai Borussia Mönchengladbach 5-0. Pasukan Klaus Toppmöller kemudian dihadapkan dengan sebuah ujian berat di pekan ke-23 kala kedatangan pimpinan klasemen Borussia Dortmund di BayArena. Kekalahan akan menjauhkan mereka dari Dortmund, sementara sebuah kemenangan akan membuat harapan mereka untuk merengkuh trofi Bundesliga pertama dalam sejarah kembali terbuka.

Bayer pun menggila. Gol-gol dari Michael Ballack, Carsten Ramelow, Oliver Neuville, dan Dimitar Berbatov berhasil membuat Dortmund yang lebih difavoritkan kalah 4-0. Kemenangan tersebut menjadi pelecut semangat anak asuh Klaus Toppmöller.

Dimotori oleh Michael Ballack yang di musim tersebut tampil sangat impresif dengan torehan 17 gol di liga, Bayer Leverkusen sukses meraih 5 kemenangan dan 2 hasil imbang di 7 pekan berikutnya. Dengan hanya 3 pertandingan tersisa, Bayer Leverkusen unggul 5 poin dari Dortmund.

Penampilan gemilang juga dicatat Bayer Leverkusen di ajang DFB-Pokal. Setelah menang 3-0 atas Jahn Regensburg di ronde pertama, Leverkusen kemudian meraih kemenangan dramatis atas Bochum. Gol Dimitar Berbatov di menit ke-90 mengantar Leverkusen menantang Hannover di babak 16 besar.

Tanpa halangan berarti, Bayer Leverkusen berhasil melaju ke semifinal setelah menang 2-1 atas Hannover dan menang 3-0 atas TSV Munchen. Leverkusen pun lolos ke partai final setelah menang 3-1 atas FC Koln lewat babak perpanjangan waktu. Dimotori Dimitar Berbatov yang menjadi top skor Piala Jerman dengan torehan 6 gol, Die Werkself bakal menantang juara bertahan, Schalke di partai puncak.

Tak hanya di kompetisi domestik. Performa heroik juga ditorehkan Bayer Leverkusen di Liga Champions. Setelah mengandaskan Red Star Belgrade di babak ketiga kualifikasi, Bayer Leverkusen yang tergabung di Grup F bersama Barcelona, Lyon, dan Fenerbahce, lolos ke babak berikutnya sebagai runner-up.

Di babak grup kedua, Bayer Leverkusen mendapat hasil drawing yang cukup sulit. Namun, dengan sedikit keberuntungan di akhir, Leverkusen berhasil melangkahi Deportivo La Coruna, Arsenal, dan Juventus untuk menantang Liverpool di babak perempat final.

Di leg pertama, Leverkusen pulang dengan tangan hampa. Untungnya, gawang Hans-Jörg Butt cuma bobol sekali oleh gol Sami Hyypiä. Leverkusen kemudian sukses melakukan comeback di leg kedua. Dua gol Michael Ballack, Dimitar Berbatov, dan Lucio hanya berhasil dibalas oleh gol Abel Xavier dan Jari Litmanen. Leverkusen pun menang dengan agregat 4-3.

Di partai semifinal, wakil Inggris lainnya sudah menanti, yakni sang juara Liga Primer, Manchester United. Laga sengit pun tersaji. Anak asuh Sir Alex Ferguson yang bertindak sebagai tuan rumah di leg pertama berhasil 2 kali unggul lewat gol Ole Gunnar Solskjær dan Ruud van Nistelrooy. Namun, dua gol penyama dari Michael Ballack dan Oliver Neuville berhasil memaksa Bayer Leverkusen pulang ke Jerman dengan membawa hasil imbang 2-2.

Di leg kedua yang digelar di BayArena, MU berhasil unggul cepat lewat gol Roy Keane. Namun, sebelum turun minum, Oliver Neuville mencetak gol kelimanya di UCL musim tersebut untuk membuat skor kembali sama kuat 1-1. Hingga peluit akhir dibunyikan, skor tak berubah. Bayer Leverkusen pun dinyatakan menang berkat 2 gol tandang yang mereka cetak di leg pertama.

Singkat cerita, jelang akhir musim, Bayer Leverkusen berpeluang untuk meraih treble winner. Jika berhasil, mereka akan jadi klub Jerman pertama yang merengkuh predikat tersebut. Akan tetapi, dari situlah bencana memilukan Bayer Leverkusen bermula.

Treble Winner yang Menjadi Treble Horror

Di kancah Bundesliga, keunggulan lima poin Bayer Leverkusen atas Borussia Dortmund berkurang menjadi dua poin saja. Ini terjadi setelah di pekan ke-32, Leverkusen secara mengejutkan kalah 1-2 di kandangnya sendiri dari Werder Bremen. Di saat bersamaan, Dortmund menang dramatis 2-1 atas FC Koln.

Meski terancam, peluang juara Bayer Leverkusen masih sangat terbuka. Sebab, di pekan ke-33, mereka hanya akan bertandang ke markas Nürnberg yang tengah susah payah menghindari degradasi.

Namun, lagi-lagi, Leverkusen membuang peluang. Mereka kalah 1-0, sementara di kejauhan, Dortmund berhasil mengatasi Hamburg SV. Sebuah hasil yang akhirnya membuat Bayer Leverkusen terkudeta dari puncak klasemen.

Bayer Leverkusen harusnya bisa berpesta di kandang saat memastikan kemenangan 2-1 atas Hertha Berlin di pekan pamungkas. Akan tetapi, itu hanyalah harapan semu. Di laga lain, Borussia Dortmund berhasil mengatasi Werder Bremen, lawan yang dua kali menjegal langkah Leverkusen di musim tersebut.

Bayer Leverkusen pun harus menerima takdir pedih. Untuk keempat kalinya dalam enam musim terakhir, Die Werkself kembali harus finish di peringkat dua Bundesliga.

Sepekan setelah hari yang menyedihkan itu, pasukan Klaus Toppmöller berusaha menghibur diri dengan mencoba merebut trofi DFB-Pokal dari tangan juara bertahan, Schalke. Laga sengit nan keras pun tersaji di Olympiastadion.

Namun, Leverkusen sepertinya masih terguncang dengan kegagalan di Bundesliga. Mereka kalah 4-2 dan trofi DFB-Pokal yang sudah di depan mata kembali jatuh ke tangan Schalke.

Dengan kekecewaan yang makin menjadi-jadi, Bayer Leverkusen tak punya banyak waktu untuk meratap. Empat hari berselang, mereka sudah harus berada di Hampden Park, Skotlandia untuk menantang Real Madrid yang berisikan Galacticos di final Liga Champions.

Madrid yang berambisi meraih titel kesembilan mereka berhasil unggul di menit ke-9 lewat gol Raul. Leverkusen membalas lewat gol Lucio di menit ke-14. Sayangnya, gol tersebut menjadi tak berarti setelah Zinedine Zidane berhasil mencetak sebuah gol spektakuler dengan sepakan voli kaki kiri tepat sebelum turun minum.

Drama pun terjadi di babak kedua. Di menit ke-68, Madrid kehilangan sang kiper, Cesar yang mengalami cedera. Iker Casillas yang masih berusia 20 tahun kemudian masuk ke lapangan. Dalam waktu 25 menit, Casillas berhasil melakukan banyak penyelamatan heroik dengan semua bagian tubuhnya untuk menggagalkan peluang-peluang Bayer Leverkusen.

Saat peluit akhir dibunyikan, para pemain dan pendukung Bayer Leverkusen hanya bisa menatap langit. Dengan air mata yang bercampur hujan di Hampden Park, mungkin saat itu mereka tengah bertanya-tanya: mengapa ini bisa terjadi.

Hanya dalam 11 hari, Bayer Leverkusen kehilangan gelar Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions. Alih-alih mendapat titel treble winner, Bayer Leverkusen justru mengukir treble horror.

Neverkusen: Julukan Sekaligus Kutukan

Momen itulah yang membuat Bayer Leverkusen mendapat julukan “Vizekusen” atau dalam bahasa Inggris disebut “Neverkusen”. Julukan tersebut disematkan tak hanya karena Leverkusen mengakhiri musim 2001/2002 sebagai runner-up di Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions, tetapi juga karena reputasi mereka sebagai tim yang selalu hampir juara.

Yang jadi ironis, “Neverkusen” tak hanya berakhir sebagai julukan semata, tetapi juga menjadi kutukan. Pada Piala Dunia 2002, 5 pemain Bayer Leverkusen masuk dalam skuad timnas Jerman. Mereka berhasil masuk final, tetapi kembali pulang sebagai runner-up.

Begitu juga dengan Euro 2008. Dua alumni Bayer Leverkusen, Michael Ballack dan Oliver Neuville yang masuk dalam skuad timnas Jerman kembali pulang dengan medali runner-up.

Yang tak kalah menarik, di tahun 2012, tragedi treble horror kembali terulang kala Bayern Munich kalah di Bundesliga, DFB-Pokal, dan Liga Champions. Meski bukan Bayer Leverkusen yang mengalami, tetapi media-media Jerman kala itu melabeli Bayern Munich sebagai “Vizekusen 2.0” alias “Neverkusen 2.0”.

Sungguh tak terelakkan kalau julukan “Neverkusen” telah melekat seperti lumpur. Apalagi saat Bayer Leverkusen kembali menjadi runner-up Bundesliga di musim 2011 dan runner-up DFB-Pokal di musim 2009 dan 2020. Saat itu, julukan “Neverkusen” begitu nyaring terdengar.

Kini, julukan tersebut selalu menghantui Bayer Leverkusen dan para pendukungnya di setiap musim. Entah sampai kapan julukan “Neverkusen” akan terus melekat. Yang jelas, selama Bayer Leverkusen terus menjadi pecundang, julukan “Neverkusen” akan selalu sulit dihapus dari sejarah.


Referensi: Adidas, These Football Times, Soccerbox, Planet Football, Vijesti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *