• March 2, 2024

Dua Titisan Legenda Ikuti Jejak Ayahnya ke Serie A

Memang yang namanya buah kalau jatuh pasti tidak akan jauh dari pohonnya. Seorang anak cepat atau lambat pasti akan meniru orang tuanya. Timothy Weah dan Marcus Thuram adalah dua dari sekian banyak contohnya di ranah sepak bola. Kedua pemain ini mengikuti jejak ayahnya ke Serie A.

Marcus Thuram direkrut Inter Milan, sedangkan Timothy Weah dipersilakan masuk ke skuad Juventus. Memang, rumor transfer kedua pemain ini tidak banyak dibicarakan. Berita kedatangan keduanya ke Liga Italia tertutup oleh rumor-rumor yang lebih panas. Juga oleh kepindahan para bintang Eropa ke Saudi Arabia.

Kedatangan Marcus dan Timothy menarik bukan hanya karena mereka mengikuti jejak ayahnya. Namun, juga lantaran kedua pemain ini bergabung dengan klub yang berbeda dengan ayahnya dulu. Bisakah Timothy Weah dan Marcus Thuram menjadikan Serie A asyik lagi, seperti dulu ketika ayahnya bermain di sana?

Marcus Thuram ke Inter

Dilaporkan surat kabar La Gazzetta dello Sport seperti dikutip Sempre Inter, Marcus Thuram memastikan kedatangannya ke Inter Milan. Ia kabarnya juga sudah menyelesaikan tes medis. Melalui situs Transfermarkt, Marcus juga telah berlabel pemain Nerazzurri.

Kendati demikian, kedatangannya ke Inter boleh dikata terlambat. La Beneamata sebenarnya sudah lama mengincar pemain ini. Kira-kira sejak 2021. Pada waktu itu, Inter sudah mengajukan tawaran ke Borussia Monchengladbach, tapi cederanya Marcus Thuram membatalkan transfer itu.

Marcus mengalami cedera lutut. Inter pun mengalihkan perhatiannya ke pemain lain. Joaquin Correa dari Lazio yang akhirnya dikontrak. Namun, musim ini, ketika Inter mengetahui Marcus Thuram berstatus bebas transfer, ia pun diboyong ke Giuseppe Meazza.

Marcus Thuram adalah penggemar taktik Inter. Ia sangat menyukai skema 3-5-2 Simone Inzaghi. Jadilah, ia tidak terlalu banyak fafifu untuk menandatangani kontrak yang disodorkan La Beneamata. Apakah Marcus Thuram akan sangat membantu Inter? Kita bahas nanti.

Berbeda dengan Ayahnya

Marcus Thuram memang mengikuti jejak ayahnya. Namun, ia tidak membela klub ayahnya dulu. Ia juga punya posisi yang berbeda dengan sang bapak. Lilian Thuram dalam langgam sepak bola Eropa, masyhur sebagai seorang bek tangguh dan pekerja keras milik Juventus.

Namun, ia ditempa lebih dulu oleh Carlo Ancelotti di Parma. Sebelum ia bareng Gianluigi Buffon hijrah ke Juventus. Bek berkepala licin ini memberikan dua trofi untuk Juventus. Dua di antaranya adalah trofi Serie A tahun 2002 dan 2003.

Saat Juventus diterpa kasus Calciopoli, Thuram adalah satu dari sekian pemain yang memutuskan untuk berhenti membela Si Nyonya Tua. Tawaran dari Barcelona tak kuasa ia tolak. Meski pada akhirnya, juara dunia 1998 ini hanya memperoleh satu trofi saja di Barcelona.

Striker yang Hebat

Nah, Marcus Thuram bukan bek tangguh seperti Lilian. Ia justru striker yang sangat berbahaya di lini depan. Musim lalu, pemain internasional Prancis tersebut mencetak 16 gol dari 32 laganya bersama Gladbach. Dengan begitu wajar saja kalau Inter kepincut betul mendatangkan pemuda yang satu ini.

Pemain bertinggi 192 cm itu adalah penyerang sempurna dalam skema Inzaghi. Ia pengganti sepadan untuk Edin Dzeko. Marcus juga alternatif bagi Romelu Lukaku, terlepas pemain Belgia ini bertahan atau tidak. Ia juga sosok yang tepat untuk mendampingi Lautaro Martinez yang sulit tergoyahkan di posisinya.

Di Prancis, Marcus Thuram turun jadi striker tunggal seperti Giroud. Namun, bukan berarti ia tak bisa bermain dengan partner. Atributnya sebagai penyerang serba bisa akan menopang strategi Inzaghi. Meskipun ia bukan sosok penyerang yang aktif dalam menjemput bola.

Permainan Marcus sangat sederhana. Ia mencari celah. Itu saja. Namun, ia hafal di luar kepala celah mana yang harus dieksploitasi. Mengerti betul ke mana arah bola. Marcus jarang menyentuh bola. Akan tetapi, sekalinya mendapat bola, ia bakal mengontrol dan menggiringnya ke kotak gawat di lini pertahanan lawan.

Para bek Bundesliga kerap kesulitan mengawasi pergerakannya. Kemampuan itu tidak jauh berbeda dengan Lautaro. Dan ini akan membuat lini depan Inter kian tajam. Coba bayangkan saja, dua penyerang setipe bermain bersama, sudah barang tentu akan membuat bek-bek lawan kelimpungan.

Timothy Weah ke Juventus

Lain Marcus Thuram, lain pula Timothy Weah. Tidak gratis Juventus mendatangkan Timothy. Bianconeri perlu mengeluarkan 12 juta euro (Rp196 miliar) untuk memboyong buah hati George Weah itu dari Lille. Timothy Weah diikat Juventus sampai 2028. Ia menjadi opsi bagus bagi lini serang Juventus yang, kita tahu, musim lalu hanya bisa melakukan senam kesehatan jasmani.

Timothy adalah seorang penyerang, mirip dengan ayahnya. Kendati ia memilih Juventus daripada AC Milan. Meskipun Timothy memilih kewarganegaraan Amerika Serikat, tempat kelahirannya, alih-alih Liberia. Padahal ayahnya adalah Presiden Liberia.

Jauh sekali sebelum Timothy bergabung ke Juventus, George Weah sudah lebih dulu menjahit reputasinya di sepak bola Italia. Weah bergabung ke AC Milan. Ia menjadi tonggak kesuksesan pemain Afrika sekitar tahun 1990-an. Mengapa? Tentu saja berkat raihan Ballon d’Or-nya itu.

Weah adalah satu-satunya pemain Afrika yang pernah menyabet penghargaan tersebut pada tahun 1995. Selain itu, selama berseragam Rossoneri, George Weah juga memberikan dua trofi Serie A pada tahun 1996 dan 1999.

Timothy Weah Si Striker Modern

Bukan cuma kebangsaan dan klub, Timothy dan George Weah, walaupun sama-sama seorang striker, tapi berbeda gaya bermain. George Weah adalah penyerang yang bisa mencetak gol bebas. Sementara itu sang anak adalah tipikal penyerang modern. Timothy bukan penyerang yang memburu gol.

Pemain internasional Amerika Serikat itu justru dikenal dengan kualitasnya dalam memberikan asis. Empat musim berseragam Lille, Timothy Weah sudah mengemas 8 gol dan 8 asis. Sedikit ya? Betul. Tapi sebagai penyerang modern, statistik semacam itu tidak menjadi patokan.

Apalagi Timothy merupakan pemain versatile. Oleh Juventus, ia akan mengisi pos penyerang sayap yang ditinggalkan Juan Cuadrado, alih-alih pemain nomor sembilan. Itu artinya, pergerakan, umpan, dan visi bermain adalah kunci. Timothy Weah punya itu, walaupun mesti perlu ditempa lagi.

Musim lalu, di Lille, Timothy sudah menunjukkan determinasinya. Sedikitnya, Timothy melakukan 1003 percobaan umpan dan 824 di antaranya sukses. Dengan kata lain, Timothy punya persentase umpan sukses 82,2%. Menurut Fbref, Timothy juga mengemas 34 umpan yang langsung membuahkan tembakan.

Jumlah take-ons atau giringan melewati lawannya juga lumayan. Dari 37 percobaan take-ons, 20 di antaranya berhasil dan tiga di antaranya membuahkan tendangan ke arah gawang. Intinya, Timothy Weah bisa menjadi pemain jangka panjang yang menarik buat Juventus.

Dua darah legenda Serie A, Lilian Thuram dan George Weah mengalir kembali di Serie A. Terburu-buru jika kita menganggap Marcus Thuram dan Timothy Weah akan berhasil melanjutkan legasi sang ayah.

Kepagian juga kalau kita menganggap kedua pemain itu akan sulit mengikuti jejak keberhasilan ayahnya. Namun, dengan hadirnya talenta muda yang memiliki darah pemain legenda, bisa jadi membuat Serie A akan menarik lagi. Sebagai penikmat sepak bola, kita hanya perlu menunggunya. Ya, menunggu.

Sumber: SempreInter, EuroSport, TheseFootballTimes, Mirror, Goal, Flashscore, Fbref

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *