• February 24, 2024

Bikin Terpana! Inilah Hari Dimana Madridista Beri Tepuk Tangan Untuk Ronaldinho

Susah mencari rivalitas antar klub mana yang lebih iconic dari Barcelona vs Real Madrid. Dengan sejarah yang begitu panjang, El Clasico bukan hanya sekedar persaingan antar dua klub La Liga. Tapi rivalitas antara dua kelompok masyarakat di Spanyol dimana mereka saling membenci satu sama lain.

Tapi sepanas apapun dan seberapa besar kebencian suporter klub dengan tim rivalnya, pada akhirnya mereka adalah penikmat sepak bola. Mereka akan tetap menghargai permainan cantik, meski itu dari pemain tim lawan. Dan ketika seorang pemain bisa membuat para fans rival bertepuk tangan untuknya, itu adalah hal yang luar biasa.

Itulah yang terjadi pada Ronaldinho ketika melawan Real Madrid di Estadio Santiago Bernabeu tahun 2005. Di laga itu ia menampilkan tontonan yang istimewa. Sampai-sampai ketika ia mencetak gol kedua di laga itu, para Madridista malah memberikannya tepuk tangan. Sebelumnya, hanya Diego Maradona lah yang punya kehormatan diberikan tepuk tangan oleh para Madridista.

Pernah Jadi Calon Galactico

Sebelum membahas soal sehebat apa penampilan Ronaldinho sampai bisa dapat tepuk tangan Madridista di Bernabeu, mari kita pahami konteksnya. Tentu saja, salah satu alasan karena Ronaldinho adalah pemain paling menghibur saat itu. Tapi ada cerita lain.

Era 2000-an awal adalah era dimana Real Madrid masih menggembar-gemborkan proyek galacticonya. Dimana presiden los blancos, Florentino Perez membeli pemenang Ballon d’Or tiap tahunnya. Dimulai dari Luis Figo di tahun 2000, lalu Zinedine Zidane tahun 2001, kemudian David Beckham 2003, dan Michael Owen di tahun 2004. Dari lima nama itu, hanya David Beckham yang tidak punya Ballon d’Or.

Ada satu nama yang Madrid beli untuk melengkapi galactico mereka. Yup, dia adalah Ronaldinho yang seharusnya bisa berlabuh di Bernabeu pada tahun 2003. Saat itu Ronaldinho sudah akan meninggalkan PSG, dan ada tiga klub yang sudah mengincarnya. Yaitu Barcelona, Real Madrid dan Manchester United.

Ditahun yang sama, Beckham juga sudah siap untuk dijual MU. Tapi bukan ke Madrid, melainkan ke Barcelona. MU dan Barcelona sebenarnya sudah mencapai kesepakatan. Tapi Beckham lebih memilih Madrid karana pada saat itu, Barca tidak masuk zona Liga Champions.

Nah, jika saja saat itu Beckham jadi ke Barcelona, maka diyakini Ronaldinho akan pindah ke Madrid atau MU. Tapi sebenarnya ada keraguan dari Madrid untuk mendatangkan Ronaldinho. Alasanya karena Ronaldinho dianggap terlalu jelek. Sehingga Madrid takut ia tidak bisa menggaet brand untuk iklan.

Itu jelas alasan yang sangat bodoh dari los blancos. Apalagi setelah mereka mengetahui bagaimana Ronaldinho tumbuh jadi pemain terbaik. Sedangkan obsesi Florentino Perez bakal jadi bumerang. Mendatangkan banyak pemain bintang sekaligus berdampak pada kurangnya kedisiplinan taktis dan harmonisasi dalam bermain.

El Clasico: Panggung Ronaldinho

Di pertandingan el clasico tahun 2005 inilah yang bakal jadi saksinya. Barcelona bertandang ke markas Real Madrid saat itu. Ronaldinho jadi starter, didampingi oleh Messi dan Eto’o yang jadi trio serangan Barca. Sedangkan Madrid juga mengeluarkan kekuatan penuh mereka. Los Blancos menurunkan Ronaldo, Robinho, Raul, Beckham, Zidane, Roberto Carlos, Sergio Ramos, Salgado, dan tentu saja Iker Casillas.

Tapi baru 40 detik berselang, Ronaldinho sudah membuat repot Michel Salgado. Bermain di sisi kanan memang mengharuskan Salgado untuk menjaga Ronaldinho. Pertandingan malam itu bakal jadi laga paling merepotkan bagi bek Spanyol itu.

Namun tidak hanya Salgado. Dengan drible-drible dan umpan-umpan berbahaya, Ronaldinho juga membuat repot Sergio Ramos di lini pertahanan Madrid. Di menit ke-14, Barcelona bisa membuka skor lewat gol dari Samuel Eto’o.

Real Madrid tak berdaya di babak pertama. Ronaldo sudah tidak dalam performa puncak untuk memimpin serangan. Begitu pula dengan Raul, yang malah sempat tersungkur kesakitan karena cedera. Sedangkan Robinho yang baru bergabung musim itu belum bisa beradaptasi dengan permainan tim. Babak pertama pun berakhir dengan skor 1-0.

Tepuk Tangan Dari Madridista

Di penghujung babak pertama, Salgado menerima kartu kuning setelah melakukan pelanggaran tidak perlu kepada Ronaldinho. Ini membuatnya harus lebih berhati-hati menjaga Ronaldinho jika tidak ingin mendapat kartu merah.

Tapi sebenarnya tidak ada bedanya juga. Di babak kedua Salgado sudah tertinggal jauh tak bisa menjangkau Ronaldinho. Ia tidak terlihat ketika Ronaldinho membawa bola maju, melewati Ramos dan Helguera sebelum melepaskan tembakan ke gawang Casillas di menit ke-59.

Hal serupa kembali Ronaldinho tunjukan di menit ke-77. Kali ini ia hanya perlu melewati Sergio Ramos sebelum menggetarkan gawang Iker Casillas. Di gol kedua ini, reaksi para Madridista berubah. Kalau sebelumnya mereka meneriaki Ronaldinho setelah cetak gol pertamanya, kali ini mereka bertepuk tangan untuknya.

Para Madridista di Bernabeu dibuat terpukau dengan fakta bahwa Ronaldinho mencetak dua gol dengan cara yang serupa, hampir tanpa usaha besar. Beberapa penonton ragu untuk memberikan tepuk tangan, tapi tidak sedikit juga yang benar-benar merasa terhibur dengan penampilan Ronaldinho saat itu.

Hal yang ironis adalah, selama lima tahun Florentino Perez berusaha mengumpulkan bintang-bintang terbaik ke Bernabeu. Tapi pertunjukan yang paling dinikmati oleh publik Bernabeu itu sendiri datang dari pemain klub yang mereka benci.

Dan tepuk tangan dari para Madridista untuk Ronaldinho membuktikan kalau sebesar apapun kebencian mereka dengan Barcelona, pada dasarnya mereka adalah penggemar sepak bola. Sehingga bahkan ketika pemain Barcelona membantai klub kesayangannya, jika itu dilakukan dengan cara seindah Ronaldinho, mereka tidak segan memberikan respect.

Akhirnya Dapat Ballon d’Or

Faktanya, itu memang musim terbaik Ronaldinho bersama Barcelona, dan Barcelona bersama Ronaldinho. Di akhir musim, ia membawa Barca mempertahankan gelar La Liga mereka. Meninggalkan Real Madrid yang berada di posisi kedua.

Tidak hanya itu, Barca juga jadi juara Liga Champions di musim itu. Mereka berhasil mengalahkan Arsenal dengan kemenangan comeback 2-1. Itu jadi piala Champions pertama mereka sejak tahun 1992.

Ronaldinho sendiri mendapatkan penghargaan Ballon d’Or. Namun, masa puncak Ronaldinho ini tidak bertahan lama. Entah kenapa pada saat itu para pemenang Ballon d’Or cenderung langsung mengalami penurunan performa. Seperti Kaka, Shevchenko, dan Ronaldo Brasil.

meskipun begitu, penampilan Ronaldinho di Bernabeu itu memberikan dampak ke Real Madrid. 2005/06 jadi penanda berakhirnya proyek galacticos. Florentino Perez mengundurkan diri sebagai presiden, Zidane mengumumkan pensiun dari klub, dan Madrid merekrut kembali Fabio Capello. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Madrid untuk bisa keluar dari krisis identitas pasca era galactico mereka.

Sumber referensi: Athletic, Planet, Barcelona

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *